Laman
Senin, 07 Februari 2011
Minggu, 06 Februari 2011
Sabtu, 05 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
Jeritan Sunyi di Kelas Advokasi
Nah, minggu lalu, di kuliah terakhir menjelang ujian, ditayangkan film pendek tentang aborsi, the Silent Scream (Jeritan Sunyi). Film kontroversial ini menyajikan fakta tentang step by step prosedur aborsi dan tayangan life real time dari layar USG ketika dilakukan aborsi terhadap janin berusia 12 minggu.
===========================================
Kapankah sebuah janin dikatakan hidup?
Ada berbagai pendapat tentang penentuan masa itu, masing-masing dengan argumentasinya. Namun dalam film ini, kita bisa melihat bahwa janin berusia 12 minggu itu telah lengkap berbentuk manusia, dengan jantung yang berdenyut 140 kali per menit. Ketika instrumen untuk aborsi berupa suction tenaculum mulai mendekati kantong amnion yang melindungi janin, janin bergerak menjauh. Dapatkah ini menjadi bukti bahwa janin mempunyai naluri menjauhi bahaya? berarti, hidupkah ia? Denyut jantungnya meningkat hingga 200 x. menit..
Lalu ketika akhirnya kantong telah robek dan ciran amnion keluar, datanglah saat kematiannya, ketika alat suction menghisap tubuh mungil janin, menghancurkannya dan menghisapnya hingga lenyap dari rongga rahim. Selesai?
Ternyata tidak. Ada bagian yang tidak dapat masuk ke suction karena terlalu besar. Ya. kepala janin, terlalu besar untuk dapat dihisap begitu saja, sehingga harus dilakukan prosedur lain untuk mengeluarkannya. Instrumen lain pun masuk untuk "menangkap" dan menjepit kepada yang telah terpisah dari badan ini, kemudian dengan sekali tekan, klem ini menghancurkan kepala janin untuk selanjutnya di-suction keluar rahim. Rahim dibersihkan, dan proses aborsi selesai.
Dengan narasi dan tayangan USG yang cukup jelas, film pendek ini menguak sisi gelap aborsi, bahwa ia tidak lain adalah bentuk kekerasan. Pembunuhan, mutilasi, dan pemusnahan, digabung dalam satu tindakan yang secara etis ilmiah mungkin saja legal. Mungkinkah kita dapat hidup normal, menjalani hari demi hari tanpa beban setelah terlibat dalam perbuatan seperti itu?
Tentu saja, selalu harus ada dua sisi dalam satu cerita. film ini dituduh telah mendramatisasi proses aborsi, dengan mengatakan bahwa terbukanya mulut janin ketika pproses aborsi dilakukan dikatakan "seperti menjerit". Para ahli pendukung "pro-choice" mengatakan bahwa film ini menyesatkan karena dalam usia semuda itu, sensasi nyeri belum terbentuk, sehingga janin tidak merasakan apapun. Namun tetap saja, nyeri atau tanpa nyeri, aborsi tetap menyisakan kengerian.
Kontroversi tetap berkepanjangan tentang aborsi, diakui atau tidak. Tidak berbeda juga yang terjadi di negeri ini. Seperti lazimnya hal-hal sensitif di negeri ini, maka lebih baik diam, tidak membicarakan, dan tidak berbuat sesuatu daripada mencari solusi. Klinik aborsi menjamur, istilah aborsi disamarkan menjadi, disedot, atau digugurkan, namun aborsi tetap ada, dan angkanya cukup besar. Membayangkan sekian banyak janin mengalami nasib mengenaskan seperti dalam film ini, seharusnya cukup menggugah hati nurani kita untuk mempertanyakan kembali, apa yang dapat kita lakukan. Cukupkah hanya berdiam diri saja? Tidak hanya aborsi oleh pasangan pra nikah, remaja, atau mahasiswa saja, namun pikirkan juga aborsi di dalam pernikahan. Berapa banyak pasangan yang melakukan aborsi karena gagal KB, jarak kehamilan yang terlalu dekat, atau alasan lain?
====================================================
Ketika tayangan film pendek ini berakhir, kelas mendadak senyap. Beberapa mahasiswa bahkan kelihatan membasah matanya. Apapun kontroversi yang muncul di awal kelas tadi, rasanya telah terjawab. Aborsi memang mengerikan.
Note: The Silent Scream dapat diunduh lewat youtube.
Gambar janin 11 minggu diambil dari http://www.silentscream.org/silent_e.htm
Langganan:
Postingan (Atom)