Laman
Kamis, 16 Juli 2009
Hasil jumpa pers kemarin: Obat Flu Aman untuk Ibu Hamil
Kopipas dari link di atas:
Tempo - Kamis, Juli 16
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat (PSFKKO) UGM melatih ibu-ibu hamil cakap memilih obat flu yang aman. Pelatihan dilakukan terhadap sejumlah ibu-ibu hamil yang sedang mengikuti program pra-persalinan di rumah sakit bersalin Sakina Idaman, Sleman. »Ide dasar pelatihan ini adalah kecenderungan ibu-ibu hamil yang memilih tidak mengkonsumsi obat flu karena khawatir akan berpengaruh pada perkembangan janin,” jelas Sri Hidayati, peneliti PSFKKO UGM kepada wartawan di kampus UGM, Kamis (16/7).
ADVERTISEMENT
Pelatihan meggunakan metode CBIA-Pregnancy (Cara Belajar Ibu Aktif-Pregnancy). Mereka dilatih untuk mencermati keterangan yang tercantum pada kemasan obat flu yang dijual bebas. »Selain kompisisi obat, ibu-ibu itu juga dilatih untuk mencermati indikasi dan kontra-indikasi yang tercantum dalam kemasan obat bebas. Sebab, ada obat flu yang mencantumkan peringatan agar tidak dikomsumsi ibu hamil,” jelas Sri Hidayati.
PSFKKO UGM mencatat pelatihan selama dua bulan ini telah meningkatkan kesadaran dan ketrampilan ibu-ibu hamil untuk memilih obat flu yang aman. Ibu-ibu hamil, kata Sri Hidayati, tidak lagi takut meminum obat flu karena sudah trampil memilih obat flu yang aman.
»Pelatihan ini sekaligus memberi kesadaran terhadap masyarakat agar tidak fanatik terhadap merek obat flu tertentu. Sebab, masyarakat makin trampil memilih obat dengan cara mencermati komposisi, indikasi dan kontra-indikasi yang tercantum dalam setiap kemasan obat yang dijual bebas,” jelas Sri Hidayati yang menambahkan bahwa metode CBIA-Pregnancy ini diadopsi di Kamboja dan Laos serta satu negara di Afrika.
HERU CN
Hasil jumpa pers kemarin: Obat Flu Aman untuk Ibu Hamil
Kopipas dari link di atas:
Tempo - Kamis, Juli 16
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat (PSFKKO) UGM melatih ibu-ibu hamil cakap memilih obat flu yang aman. Pelatihan dilakukan terhadap sejumlah ibu-ibu hamil yang sedang mengikuti program pra-persalinan di rumah sakit bersalin Sakina Idaman, Sleman. »Ide dasar pelatihan ini adalah kecenderungan ibu-ibu hamil yang memilih tidak mengkonsumsi obat flu karena khawatir akan berpengaruh pada perkembangan janin,” jelas Sri Hidayati, peneliti PSFKKO UGM kepada wartawan di kampus UGM, Kamis (16/7).
ADVERTISEMENT
Pelatihan meggunakan metode CBIA-Pregnancy (Cara Belajar Ibu Aktif-Pregnancy). Mereka dilatih untuk mencermati keterangan yang tercantum pada kemasan obat flu yang dijual bebas. »Selain kompisisi obat, ibu-ibu itu juga dilatih untuk mencermati indikasi dan kontra-indikasi yang tercantum dalam kemasan obat bebas. Sebab, ada obat flu yang mencantumkan peringatan agar tidak dikomsumsi ibu hamil,” jelas Sri Hidayati.
PSFKKO UGM mencatat pelatihan selama dua bulan ini telah meningkatkan kesadaran dan ketrampilan ibu-ibu hamil untuk memilih obat flu yang aman. Ibu-ibu hamil, kata Sri Hidayati, tidak lagi takut meminum obat flu karena sudah trampil memilih obat flu yang aman.
»Pelatihan ini sekaligus memberi kesadaran terhadap masyarakat agar tidak fanatik terhadap merek obat flu tertentu. Sebab, masyarakat makin trampil memilih obat dengan cara mencermati komposisi, indikasi dan kontra-indikasi yang tercantum dalam setiap kemasan obat yang dijual bebas,” jelas Sri Hidayati yang menambahkan bahwa metode CBIA-Pregnancy ini diadopsi di Kamboja dan Laos serta satu negara di Afrika.
HERU CN
Selasa, 16 Desember 2008
Undangan untuk para Ibu Hamil
- Cukup amankah obat ini bagi masyarakat, terutama masyarakat dalam kelompok khusus (anak - anak, lansia, ibu hamil, orang - orang dengan penyakit kronis)?
- Cukupkah informasi yang tersedia tentang bagaimana seharusnya obat itu digunakan?
Untuk membicarakan penggunaan obat bebas pada ibu hamil, dan informasi yang diperlukan konsumen tentang obat bebas, kami, Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat, UGM, mengundang para Ibu hamil trimester I dan II untuk menghadiri diskusi terbatas.
Peserta: Ibu Hamil trimester I dan II, sehat, 5 - 10 orang
Tempat: Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat, Bulaksumur F-12 Yogyakarta
Waktu: Hari Senin 22 Desember atau Selasa 23 Desember 2008, menyesuaikan dengan kesepakatan antara peserta dengan penyelenggara
Hasil diskusi ini akan digunakan untuk mengembangkan panduan dalam meningkatkan ketrampilan memilih obat bebas yang aman dan sesuai dengan kebutuhan klinis konsumen.
Nah, jika Anda berminat, atau ingin mencari informasi lebih jauh tentang acara diskusi ini, Anda dapat langsung menghubungi: 0274544930 (Ibu Mimiek) 081227149772 (Hida).
Terima kasih.
Foto diambil dari sini
Kamis, 26 Juni 2008
Counter berita: berita pelarangan obat yang tidak benar
Telah beredar surat edaran palsu yang isinya sbb:
Daftar obat yang tidak boleh dikonsumsi berdasar surat keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia
Dengan ini diberitahukan bahwa produk-produk berikut ini "TIDAK BOLEH DIKONSUMSI" oleh siapa pun dalam wilayah hukum Republik Indonesia:
1. Paramex (produksi PT Konimex)
2. Inza (produksi PT Konimex)
3. Inzana (produksi PT Konimex)
4. Contrex & Contrexyn (produksi PT Tempo Scan Pacific)
5. Hemaviton Energy Drink (produksi PT Tempo Scan Pacific)
6. Hemativon Action (produksi PT Tempo Scan Pacific)
7. Bodrex & Bodrexin (produksi PT Tempo Scan Pacific)
8. Natur E (diedarkan oleh PT Wigo Hoslab)
9. Super Tetra (diedarkan oleh PT Wigo Hoslab)
10. Stop Cold (diedarkan oleh PT Wigo Hoslab)
Alasan:
1. Jumlah prosentase PPA-nya lebih dari 15%.
2. Telah terjadi bencana kematian sebanyak 13 orang di Cianjur, 2 di Palangkaraya, 15 di Palu dan 20 orang di Jayapura karena meminum obat-obatan di atas.
3. Obat-obatan di atas mengandung racun yang amat berbahaya bagi produksi reproduksi tubuh manusia, dalam hal ini kualitas sperma dan kualitas sel telur.
4. Obat-obatan di atas tidak bisa dikembalikan ke distributor/pabriknya bila rusak. Dan itu berbahaya bagi pembeli yang mengkonsumsinya.
5. Obat-obatan itu telah diproduksi secara tidak higienis di pabrik-pabriknya.
Drs. H. Sampurno, M.B.A.
Kepala Badan POM
=========================================
Ini sebenarnya berita lama, bahkan sudah di counter oleh badan POM, namun karena masih saja muncul di media, termasuk di internet, maka saya jadi terusik untuk ikut meluruskan.
Berita di atas tidak benar, alasannya:
1. Alasan administratif: tidak ada nomor surat, tanggal surat, dan yang jelas Bp Sampurno sekarang tidak lagi menjabat sebagai ketua BPOM.
2. Tidak masuk akal:
- Paramex, Inzana, Stop Cold: tidak mengandung fenilpropanolamin (ppa), apalagi hemaviton, Natur - E, dan super tetra.
- Jumlah Prosentase PPA-nya lebih dari 15% ketahuan yang nulis tidak mengerti obat, mestinya nulisnya 15 mg, memang sekarang dosis anjurannya 12,5 mg
- Telah terjadi bencana kematian sebanyak 13 orang di Cianjur, 2 orang di Palangkaraya, 15 orang di Palu, dan 20 orang di Jayapura karena meminum obat-obatan di atas. Bencana apa? kapan? minum PPA dosis sangat tinggi memang bisa timbul resiko stroke, tetapi tidak pernah ada berita seperti itu di media massa. Apakah sekian banyak orang itu "janjian" minum ppa bareng - bareng?
- Obat-obatan di atas mengandung racun yang amat berbahaya bagi produksi reproduksi tubuh manusia dalam hal ini kualitas sperma dan kualitas sel telur. Racun apa? Obat - obat di atas mempunyai kandungan yang berbeda - beda, bahan yang mana yang merusak sistem reproduksi?
- Obat-obatan di atas tidak bisa dikembalikan ke distributor/pabriknya bila rusak dan itu berbahaya bagi pembeli yang mengkonsumsinya. Ya iya lah, kalau kita beli obat dalam keadaan rusak ya jangan diminum..
- Telah diproduksi secara tidak higienis. Jika ini benar, maka tidak hanya obat - obatan di atas, namun semua obat produksi pabrik ybs tidak layak dikonsumsi, dan hal ini pasti akan menjadi berita nasional.
Oh iya, besok pagi, Sabtu, saya akan memberi training tentang swa medikasi, obat bebas dan belajar menelaah iklan obat, ada yang berminat?
Rabu, 27 Februari 2008
Swamedikasi atau pengobatan sendiri yang aman, mungkinkah?
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami sakit ringan seperti nyeri kepala, nyeri haid, batuk atau jatuh karena kecelakaan ringan, apakah Anda segera mencari pertolongan medis? atau berusaha mengatasi sendiri, dengan memanfaatkan obat yang tersedia di rumah?
Jika Anda memilih opsi kedua, maka apa yang Anda lakukan adalah swamedikasi atau pengobatan sendiri. Jadi, Swamedikasi, atau pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit ringan sebelum mencari pertolongan ke petugas atau fasilitas kesehatan. Lebih dari 60% dari anggota masyarakat melakukan swamedikasi, dan 80% di antaranya mengandalkan obat modern (1).
Swamedikasi bermanfaat dalam pengobatan penyakit atau nyeri ringan, hanya jika dilakukan dengan benar dan rasional, berdasarkan pengetahuan yang cukup tentang obat yang digunakan dan kemampuan nengenali penyakit atau gejala yang timbul. Swamedikasi secara serampangan bukan hanya suatu pemborosan, namun juga berbahaya.
Setidaknya ada lima komponen informasi yang yang diperlukan untuk swamedikasi yang tepat menggunakan obat modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat (isinya apa?), indikasi (untuk mengobati apa?), dosage (seberapa banyak? seberapa sering?), effek samping, dan kontra indikasi (siapa/ kondisi apa yang tidak boleh minum obat itu?).
Sayangnya, komponen - komponen informasi itu tidak banyak dikuasai oleh pelaku swamedikasi. Sebuah survey yang dilakukan di Yogyakarta, yang meminta responden menceritakan tentang obat OTC (over the counter/ obat non resep/ obat bebas) yang paling sering mereka konsumsi, menunjukkan rendahnya skor penguasaan komponen - komponen informasi ini di antara responden (2).
Kurangnya informasi tentang kandungan aktif obat, misalnya, menyebabkan konsumen mengaitkan nama dagang langsung ke gejala sakit tertentu, dengan mengabaikan fakta bahwa banyak nama dagang mempunyai kandungan aktif yang sama. Hal ini tentu saja dipicu juga oleh gencarnya iklan obat di berbagai media massa. Pengaruh langsung kekurangan informasi ini dapat dilihat dari pola konsumsi obat dalam rumah tangga, di mana telah ditemukan beberapa nama dagang obat digunakan secara bersamaan. Banyak pelaku swamedikasi juga secara fanatik menolak menggunakan obat dengan merek dagang lain, kendati kandungan aktifnya sama (3). Hal ini merupakan pemborosan, padahal alasan melakukan swamedikasi sebagian besar adalah penghematan. Akibat lain, yang tidak dapat diukur dengan uang, adalah risiko akibat penggunaan obat secara salah; misalnya penumpukan dosis karena mengkonsumsi obat dari beberapa merek sekaligus.
Akibat kurangnya informasi tentang indikasi, dosage, efek samping, dan kontra indikasi, misalnya penggunaan analgesik dalam jangka panjang untuk "menjaga kesehatan", munculnya efek samping yang ditafsirkan sebagai "gejala baru" (dan mengkonsumsi obat lain untuk mengatasinya) dan risiko kontraindikasi.
Secara singkat, swamedikasi yang diharapkan bermanfaat, dapat menjelma menjadi bencana jika tidak dilakukan secara tepat. Penguasaan informasi dan ketrampilan dalam memilih obat harus diupayakan bagi seluruh masyarakat.
Sebenarnya, lima komponen informasi yang diperlukan, telah tersedia di dalam kemasan atau package insert. Mengapa informasi ini harus disia - siakan? Informasi ini relatif dapat dipercaya, meskipun seringkali kurang lengkap, sulit dibaca dan sulit dimengerti.
(bersambung)
berikutnya: Bagaimana mengembangkan ketrampilan untuk memilih obat secara kritis dan rasional dengan memanfaatkan sumber informasi yang ada?
-----------------------------------------------------------------------------
Bacaan:
- Tanudjaja FK, Suryawati S., Factors influencing self medication, Abstract book, Asian Conference on Clinical Pharmacology and Therapeutics, Yogyakarta, 1 - 4 Nov 1993
- Rustamaji, Hidayati S., Radyowiyati A, Suryawati S.(1993), knowledge about drugs for self medication among families and university students, Abstract book, Asian Conference on Clinical Pharmacology and Therapeutics, Yogyakarta, 1 - 4 Nov 1993
- Suryawati S & Santoso B (1992) Improving mothers' knowledge and skills in selecting medicine using CBIA method ( a field-test result), Indon. J. Pharmacol. Ther 9(2):47