Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2010

Kelasku, kelas durhaka :(

Setelah lama tidak menge-blog.. kok kuangen juga ya...
Tapi berhubung lagi sekolah, ya mudah mudahan dimaklumi kalo cuma nulis curhatan anak sekolah :D
=================================================================

Harus diakui bahwa bagian paling menarik dari kembali ke sekolah adalah bertemu teman - teman baru, kulakan joke joke dari berbagai daerah dan kultur :D (salah satunya: ketika seorang teman cari pinjaman charger Hp, maka peringatan yang akan  dia terima adalah,"jangan gonta ganti charger, itu meningkatkan risiko tertular virus HIV!") Soal kuliah, tugas - tugas, buku referensi dan lain sebagainya itu ya.. biasalah.. dilakoni dan dinikmati saja :D

Kebanyakan mahasiswa S2 di kelas kami adalah orang - orang tua yang "kembali ke sekolah" setelah sekian lama berkutat dengan dunia kerja dan keluarga, meskipun ada juga beberapa fresh grad yang masih kinyis - kinyis. Adik - adik fresh grad in mudah dikenali dari sikap tekun dan rajin mereka ketika mendengarkan kuliah, catatan kuliah yang rapi, dan agak malu - malu ketika diskusi kelompok. Sebaliknya para angkatan soeharto (yang kuliah S1 nya sebelum '98) biasanya rada santai selama kuliah, catatan seadanya, pada jeda kuliah langsung sibuk dengan hp, baik urusan bisnis maupun urusan anak/ pasangan, tapi aktif bertanya begitu sessi tanya jawab dan diskusi dibuka. Gaya guyon para mahasiswa tua ini agak sulit dipahami oleh para fresh grad, tetapi adik - adik fresh grad biasanya ikut tersenyum sopan menanggapi guyon para seniornya.

Lha.. ndilalahnya (iki basa endonesa nya apa ya..) kelas saya, kelas promosi kesehatan ini kok ya terkenal paling ribut, paling suka protes dan "ngerjain" para dosen sampai seorang dosen menjuluki kelas kami sebagai "kelas durhaka." Oalah nasib.. sebenarnya sudah niat mau tobat kok ya jatuhnya tetep di kelas durhaka :D :D

Bagaimana riwayatnya sampai kelas kami mendapat julukan unik itu?
Pada waktu itu seorang dosen yang sangat senior mengajar di kelas kami. Beliau ini rupanya cikal bakal, salah satu the founding fathers.. (eh mother ding, wong Ibu-Ibu) program ilmu kesehatan masyarakat di Universitas itu. Gaya mengajar beliau memang agak kuno, satu buku referensi dipalajari bareng - bareng, bab per bab..enak sih, seperti dituntun begitu tapi rada monoton. Beliau akan marah kalau ada yang lupa bawa buku itu atau malah membawa edisi bahasa Indonesianya. Jadi serasa anak SMP lagi.. Konon, beberapa tahun model mengajar beliau sukses dengan cara begitu. Tapi... mana tahan anggota kelas paling ribut ini diperlakukan begitu? Maka sejak awal semester, jam kuliah beliau yang biasanya anteng di prodi lain, di kelas kami jadi penuh interupsi, celetukan, komentar.. bahkan protes. Biasanya mahasiswa menanyakan kejelasan teori, atau mengkonfrontasikan teori dengan realita, atau cuma celetukan iseng yang membuat seisi kelas tertawa. Misalnya "Humble attitude is necessary for health provider... ada yang tahu arti humble?" tanya Bu Dosen. Dari belakang terdengar sahutan "Humble trasi Bu..."

Nahh... di salah satu sessi kuliah, entah bagaimana awalnya, Ibu dosen bercerita bahwa beliau sepuluh tahun yang lalu terkena serangan stroke. "Tapi sekarang sudah nggak kelihatan lagi kan?," tanyanya ceria. Eh.. la kok ada yang berkomentar dengan santainya, "Ah mana.. masih keliatan gitu kok Bu..." Si Ibu dosen cuma geleng - geleng hilang akal. Lalu pas si Ibu dosen ini bercerita tentang pembantunya yang sudah tua dan telah 30 tahun bekerja untuknya, terdengar lagi komentar jahil.."Lansia momong lansia..." Bwahahaha,... meskipun sadis tapi kok tidak tahan untuk tidak tertawa.. Sambil geleng - geleng si Ibu mengeluh,"Kelas ini memang kelas durhaka..."

Tadi pagi waktu saya mengumpulkan tugas "Promosi Kesehatan dalam Manajemen Penanggulangan Bencana" saya kebetulan berjumpa dengan Ibu Dosen ini.
"Kamu dari promosi?"
"Iya Bu..."
"Kelas durhaka itu ya..?"
"Iya Bu..."

Biar saja dibilang kelas durhaka, pokoknya nggak ada yang telat ngumpulin tugas, wekkkk......

gambar dari sini

Minggu, 21 Maret 2010

Jejaring Sosial di Mata Seorang Tukang Becak


http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/08/0503335/jejaring.sosial.di.mata.seorang.tukang.becak
Memang benar, tulisan di bawah ini adalah tulisan Mas Harry, seorang tukang becak di Jogja, yang belakangan ramai dibicarakan karena kiprahnya di berbagai jejaring sosial. Bukan hanya sebagai narasumber yang laris diwawancarai berbagai media, mas Harry pun aktif menulis. Berikut ini SALAH SATU contoh tulisannyadi KOMPAS:
=======================================

Jejaring Sosial di Mata Seorang Tukang Becak

Senin, 8 Februari 2010 | 05:03 WIB

Mungkin bukan sebuah pilihan yang membanggakan bagi sebagian besar masyarakat kita. Namun, keputusan menjadi tukang becak adalah yang paling mungkin bagi saya waktu itu, selain cepat bisa memberikan hasil, pekerjaan itu tidak perlu syarat macam-macam seperti halnya mencari pekerjaan yang lain.

Apalagi dengan hanya berbekal ijazah SMA dan tidak punya bekal keterampilan apa-apa akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Selain itu, sebelum tahun 1990-an di kota Yogyakarta profesi tukang becak masih cukup lumayan menghasilkan uang untuk membantu menghidupi keluarga.

Dalam perjalanan waktu saya merasa ingin lebih dari sekadar tukang becak dan mengikuti saran seorang teman, saya mulai melirik untuk mengangkut para turis yang banyak berkunjung ke Kota Gudeg itu. Bekal bahasa Inggris dari sekolah SMA sudah cukup mampu untuk berkomunikasi dengan para turis asing dan ini yang membedakan tukang becak lulusan SMA dengan mereka yang tidak makan sekolahan.

Satu kelebihan lainnya adalah bekal memahami kemajuan zaman. Sekalipun hanya seorang tukang becak, saya mulai tertarik dengan bidang komputer. Saya mulai menggandrungi dunia internet pada tahun 1994, ini juga berkat dorongan seorang langganan saya dari Amerika yang sering berkunjung ke Yogya.

Bule itu meminta saya untuk membuat alamat e-mail agar memudahkan komunikasi dan dia mengajak saya ke warnet untuk membuat account e-mail. Sejak saat itu saya rajin ke warnet di kala senggang untuk belajar ngenet, saya mencoba mengakses apa saja, mulai dari membuka situs porno, main catur, sampai mencari kawan.

Berikutnya mulai meningkatkan dengan ikut melakukan chatting di mIRC dan Yahoo Messenger. Dari situ saya mulai mendapatkan banyak teman, baik di Indonesia maupun dari luar negeri, dan rata-rata mereka menganggap bercanda apabila saya mengatakan profesi saya adalah becak driver.

Dari teman-teman itulah saya mulai mengenal jejaring sosial, entah sudah berapa banyak yang saya ikuti, bahkan account dan password hanya beberapa yang masih saya ingat. Beberapa jejaring sosial yang masih saya ikuti sekarang antara lain Friendster, Flixster, Hi5, Tagged, Twitter, dan Facebook.

Jejaring sosial

Semula Friendster bagi saya merupakan pelengkap dari chatting karena di situ ditampilkan profil dan foto-foto. Pada setiap chatting kami berbagi Friendster dengan kenalan baru sehingga ada sekitar 432 orang di situ. Namun, lama-kelamaan membosankan juga setelah muncul yang aneh-aneh dan account palsu sekadar untuk ngerjain orang lain.

Pelopor

Friendster dianggap sebagai pelopor jejaring sosial yang muncul pada tahun 2002 dan mencapai puncaknya dua tahun kemudian, baru meredup setelah muncul Facebook. Orang akan merasa ketinggalan zaman kalau waktu itu tidak ikutan Friendster, tetapi meredup setelah muncul banyak account palsu, mudah dibobol, dan fiturnya sangat terbatas yang lebih terfokus pada buletin.

Sampai akhirnya muncul jejaring sosial yang baru dan ngetren sejak Barack Obama terpilih sebagai Presiden AS. Dia menggunakan jejaring yang baru itu untuk mendapatkan dukungan dan saya juga ikutan bergabung dengan Facebook. Dan ternyata Facebook lebih oke dan menarik.

Saya mulai bergabung dengan jejaring sosial itu sejak 2008 dan sekarang teman saya di Facebook sudah ada sekitar 888 orang dari seluruh dunia. Saya dengan mudah menemukan teman-teman sekolah saya dulu di situ dan yang penting saya bisa menawarkan jasa saya sebagai tukang becak serta merintis Independent Tour bersama teman-teman di Yogya.

Bahkan saya juga sudah membentuk dua grup di Facebook, yaitu Becak Jogja dan Bellongg Independent Tour. Dari situ sekarang mulai menampakkan hasil, ada banyak teman-teman dari Facebook yang menghubungi saya ketika berkunjung ke Yogya, termasuk merekomendasikan teman-teman lainnya untuk menggunakan jasa saya atau sekadar menanyakan informasi tentang Yogya. Semua itu saya layani dengan sebaik-baiknya.

Bagaimanapun Facebook memiliki fitur yang lebih lengkap, bisa menawarkan jasa atau barang, bisa membentengi dari account palsu dan spam. Aplikasi juga lebih banyak, mulai dari game, kuis setia apa tidak, bisa update setiap saat, ada event yang bisa ditawarkan ke orang lain, seperti party, launching product, sampai pencarian teman yang lebih efisien.

Namun, bukan berarti Facebook tidak punya kelemahan. Bagi yang belum terbiasa akan bingung dihadapkan pada aplikasi yang banyak itu, juga sering sebal karena diajak teman untuk mengikutinya.

Selain itu, menurut studi WatchMouse, sebuah lembaga pengamat situs terhadap 104 situs jejaring sosial yang ada di dunia ini, Facebook dinilai merupakan situs yang paling lelet. Mungkin ini karena terlalu banyak aplikasi, selain penggunanya yang terlalu banyak.

Menurut situs analisadaily.com, jumlah pengguna Facebook di Indonesia per Maret 2009 tercatat sekitar 1,4 juta orang. Ini merupakan terbanyak di Asia dan terbanyak kelima di dunia.

Dalam ber-Facebook ria, selain menggunakan komputer desktop dan laptop, serta iPod, sekarang juga bisa menggunakan ponsel. Ponsel sekarang banyak menyediakan layanan atau menu Facebook. Bahkan ponsel jadul pun bisa digunakan untuk Facebook via SMS, paling tidak ada tiga operator seluler sekarang yang melayani Facebook via SMS, yaitu 3, Telkomsel, dan Axis.

Namun, Facebook SMS punya kelemahan, yaitu interface tidak userfriendly, tidak ada notifikasi lanjutan setelah kita memberikan komentar pada status teman. Sehingga tidak bisa mengikuti perkembangan komentar. Selain tentu juga lelah mengetik di papan keypad yang kecil, apalagi kalau temannya banyak.

(Blasius Haryadi Tukang Becak di Yogyakarta)
======================================================

NB: tulisan mas Harry ini membuat saya yang tidak pernah pede menulis jadi malu.. :). Eh, yang mau kenalan add saja beliau di Fb-nya: Harry van Yogya

Senin, 18 Januari 2010

ATM Bonus

Ini cerita dari seorang Ibu yang mengantar anaknya kuliah dan mencari Kos di luar kota, tahun ajaran baru yang lalu.

Setelah berkeliling kampus, termasuk makan di kantin, naik angkot, dan belanja macam- macam untuk kebutuhan sang Putri di perantauan, mereka berdua istirahat di kamar kos yang adem. Sambil istirahat, mereka mulai berdiskusi serius tentang kebutuhan si Anak per bulan. Si Ibu meminta anak menuliskan semua kebutuhannya. Mulai makan, transportasi, alat - tulis dan fotokopi, pulsa handphone, langganan modem, dll. "Anggaran jalan - jalan nggak kamu tulis?" tanya si Ibu. "Apa kamu mau ngerem aja di kamar kalau malam minggu?" Si Anak tersenyum kegirangan, lalu melanjutkan menulis.

Setelah rencana anggaran jadi, sang Ibu pun mengoreksi di sana - sini. Di sini mulailah terdengar protes si Anak, disambut penjelasan sabar si Ibu, protes lagi, begitu seterusnya hingga rencana anggaran final. "Oke..," kata si Ibu "Ini anggaran untuk kamu sebulan. Untuk bulan ini Ibu berikan cash. Bulan berikutnya, Ibu akan transfer ke rekening kamu setiap awal bulan." si Anak mengangguk puas.

"Lalu ini...," kata si Ibu sambil mengeluarkan sebuah kartu, "Kartu ATM Ibu, siapa tahu anggaranmu membengkak.." Mata si Anak langsung membulat kegirangan, napasnya sampai sesak."Wow..," pikirnya.." Ditinggalin kartu ATM?!!? Serius niii??"

Si Ibu tersenyum lalu mengulang, "Begini.. ini kartu ATM Ibu, siapa tahu kamu perlu uang lebih, anggaranmu membengkak.. Tapi.." si Ibu tersenyum jenaka.

"Tapi apa Bu?," sergah si Anak tak sabar lagi.
"Kalau sampai akhir semester nanti kamu tidak menanyakan PIN kartu ini, artinya kamu tidak memerlukan uang lebih, pengeluaranmu terkendali, kamu akan mendapat Bonus ..."

"Yahhh, Ibu.. kirain...," teriak si Anak sambil tersenyum malu.
"Kirain mau dibawain kartu ATM ya... pokoknya kalau kamu tidak menanyakan PIN kartu ATM itu hingga akhir semester, kamu dapat Bonus,.. Deal?" tantang si Ibu.
"Deal!"

Singkat cerita, waktu berjalan dan akhir semester pun tiba. Si Anak memenangkan Bonus sesuai tantangan si Ibu. Rahasianya? Menurutnya, setiap kali dia membuka dompetnya, dia selalu melihat kartu ATM milik Ibunya, dan otomatis teringat tantangan Ibunya. Hasrat berboros - boros ria pun mereda.

Smart Mom.. :) :)


Sabtu, 16 Januari 2010

Cemburu

Percakapanku dengan dua orang perempuan.

"Mbak.. masak dia itu perhatian banget sama Aisyah*.."
"Iya.. waktu itu ada telepon, ternyata dari Aisyah, langsung aja dia tu ninggalin kita semua, katanya Aisyah ngga enak badan, jadi pulang awal dari kantornya. Udah gitu, dia kelihatan cemaas bangeeet.."
Serentak, "Huhhh.."

"Hehe..Jadinya kalian cemburu niih..?" tuduhku sambil cengengesan.
"Ya nggak gitu.. tapi kok norak banget gitu, kita yang mudaan aja nggak gitu - gitu amat.."
"Iya.. mana dia suka beliin bunga lagi buat Aisyah.."

"Kok tahu?" selidikku.
"Lha iya lah, temenku ada tuh yang sekantor sama Aisyah, setiap bulan dia kirim bunga buat Aisyah. Bahkan kadang - kadang sebulan lebih dari dua kali.."

"Wah topp.." Pujiku..
"Waktu itu dia pakai parfum yang nggak biasanya, aromanya segar, terus aku tanya parfumnya baru ya? Katanya Iya, Aisyah suka kalau saya pakai ini.. Huhh."
"Ditanya parfum saja kok mesti bawa nama Aisyah.."

"Wah.. topp banget, Beruntung banget ya, Aisyah?" kataku spontan. Mau bilang apa lagi?
Kedua perempuan itu mendelik ke arahku seakan tidak rela.
Aku buru - buru pamit sambil cengengesan.

Bagaimana nggak cengengesan coba..
Dia, yang mereka sebut - sebut itu memang ganteng, smart, nggak terlalu muda sih.. tapi tetap mempesona.. pantas saja kalau mereka cemburu dengan perhatiannya yang berlimpah ke Aisyah.

Sedangkan Aisyah? Ya, pantas saja kalau dia yang selalu disebut sebut itu membanjiri Aisyah dengan perhatian, dengan bunga, dengan sms - sms mesra..

Lha wong Aisyah itu ISTRInya... dan mereka berdua telah dikaruniai lima orang anak yang sehat!

Note:
*Aisyah, bukan nama sebenarnya.
Gambar dicomot dari sini

Selasa, 08 September 2009

Skak Mat!


Kejadian mengesankan beberapa hari yang lalu.
Kami makan bertiga di sebual mall, eh berempat ding, soalnya si Ibu didepanku membawa serta anak perempuannya. Tiba tiba, si Ibu itu bertanya kepada temannya yang juga sahabat tercinta saya:

"Dulu waktu aku gendut, badanku sebesar dia nggak?"
sambil tangannya menunjuk ke arah diriku...


Oh My God... Jujur banget si???!!
Mau bilang apa coba?...

Senin, 07 September 2009

Kutukan Nomer XL Kopral ... :) :)

http://difla.multiply.com/journal/item/64?mark_read=difla:journal:64&replies_read=26

Ini pengalaman Mbak Difla yang enerjik itu. Di sela sela kesibukannya ngurusi korban gempa beliau masih sempat juga sharing pengalamannya dengan nomer XL terkutuk.. Mudah mudahan nomer 10 digit itu tidak sampai ke tangan Anda.. Amiin....

Kenapa? Soalnya gara - gara reputasi pemilik lamanya, mbak Difla jadi kena awu anget nya.. hehe.. dikira sopir, ditagih utang, dituduh melarikan diri.. dan ini yang paling seru:


"Mas Sar, iki Jeng Sri, sing neng Malaysia dadi TKI. isih eling ora?"
(Mas Sar, ini Jeng Sri, yang di Malaysia jadi TKI, inget gak?)

Ketika sms tsb saya diamkan, beberapa hari kemudian dia ng-sms lagi:
"Mas Sar, sms-ku kok ora mbok bales to? wis lali po karo janjimu arep nglamar aku?"
(Mas Sar, sms-ku kok gak dibales sih? udah lupa ya sama janjimu mau melamarku?)

lhadalaaaahhh....!!!! grobyaaaakkk....!!!! apa pula ini...??? batin saya...
Rupanya setelah itu, masih ada lagi beberapa sms bernada sama, dari cewek yang lain lagi, ada jeng pur, jeng win, dan entah jeng siapa lagi... cuman jeng-ngatno aja yang gak ada... :)




beberapa sms yang semacam itu membuat saya menarik kesimpulan ketiga,
yakni bahwa:
pemilik nomor saya yang lama yang bernama KOPRAL SARJONO itu adalah seorang yang bener2 brengsek, yang sering merayu perempuan, dan kemudian melarikan diri dari tanggung jawab dengan membuang nomor hp-nya supaya cewek2 itu tidak meminta pertanggungjawaban lagi darinya...!!! dan karena sekarang nomor tsb saya yang memakainya, maka SAYA LAH YANG DI-SMS TERUS DAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN OLEH PARA CEWEK YANG BERHASIL DITIPUNYA ITU...!!!
(.....ampuuuunnnn....!!! pancen kadhal tenan wong siji ikiiii....!!!)

_______________________________

dan.....
sejak saat itu, saya mengambil kesimpulan terakhir, yakni bahwa:
SAYA TIDAK AKAN MEMAKAI NOMOR HP 0817-465-820 INI LAGIII...!!!
sudah terlalu banyak perbuatan YANG DIPERTUAN AGUNG KOPRAL SARJONO
- si bajingan tengik ini - yang membuat hidup saya tidak tenang...!!!


..........................................................................................................

Bener - bener nomor XL pembawa derita!
Klik link di atas untuk cerita kompletnya...

Note: foto diambil dari sini

Selasa, 18 Agustus 2009

Menodai Sungai Elo


Ata, Sinto, Ami, Hida, mas Adi pemandu

Tanggal 15 Agustus, hari Sabtu, ada undangan dari Ata a.ka Buchary Kurniata a.ka Judge Bao van Mungkid, untuk rafting di sungai Elo, Magelang. Woro woro sana sini, sampai Sabtu pagi cuma terkumpul 3 orang: Hida, Ami, Sinto, Jadi 4 orang ditambah Ata, sang pengundang. Ya sudah.. brangkaaat..

Bagaimana rasanya?
Cuma satu kata: Asyiiiiik!!!! Biarpun pake deg degan (keempat peserta belum pernah rafting sebelumnya), biarpun ada tragedi "Ngentas Gajah Dari Kali Elo".. tetep saja.. Asyik Beraaat......
Mau lagi? Mau Mau Mau!

Senin, 10 Agustus 2009

Bagian terindah dari latihan adalah..




.....Jeda makan siang!
Hari Minggu kemarin menunya nasi pecel sayuran, telur ceplok, ditambah peyek. Sederhana dan sehat.

Habis makan, disambung.. latihan lagi!
Waras, wareg.. :)

Selasa, 28 Juli 2009

Vista "Hembuh"..

Beginilah kalo orang Gaptek pengen beli laptop. Wes gaptek, anggaran mepet. Piye jal?

Titik terang muncul dari kabar burung bakal adanya "Midnight sale" di Computa tanggal 18 Juli. Maka segala sumber daya dikerahkan supaya bisa ikutan dapet laptop murah di sale itu. Sehari sebelumnya, tanggal 17, sudah ada baliho sakhohah di pertigaan gejayan, dan iklan di harian KR. Pikir saya, "Wo, beneran ada sale besar besaran, dan kayaknya bakal ruammme.."

Pas tanggal 18 Juli, Sabtu malam Minggu, setelah Magrib, saya langsung ke kota (lha wong rumahnya memang di ndeso) menuju titik sasaran: Computa di Jl. Cik ditiro. Huaaaa... ternyata sudah suk sukan.. penuh orang, banyak polisi, parkir di mana - mana, jalanan macet. Tapi karena sudah melafalkan niyat ingsun, ya sudah, saya pun ikut berjubelan di situ, sambil mbatin, "Lha kalo bukanya aja jam 8. brati saya harus kuat berdiri dalam jubelan orang itu, minimal 2 jam.. huhuuuu.. Duh Gusti Allah, paringana kuwaaat.."

Sambil menunggu dibukanya gerbang, saya mengamati detail item yang digelar di situ, terutama laptop, notebook, netbook, dsb yang speknya ditayangkan di layar lebar. Meskipun gaptek, saya terpaksa juga tunak tunuk mencermati berbagai spek laptop yang bagi saya seperti membaca rumus sihir. Sesekali saya nge-sms temen atau sodara yang kira - kira ngerti. Akhirnya nasihat dari berbagai penjuru pun bermunculan, baik via telepon maupun sms, antara lain

"Sing apik ki KORTUDUO! dudu DUALKOR! KORTU! Nganggo TU!"

"Goleko sing RAM-e 2 Giga yo..."

"Ojo merek kui.. elek.."

"Ojo sing ATOM.."

"Kosongan yo rapopo.. nginstalke ki gampang.." hehe..

Terakhir saya sempet mengirim sms ke beberapa teman, menanyakan,"Vista HB ki opo?" Eh pas habis menekan tombol sent, pintu dibuka, maka berhamburanlah para pengantri masuk, Manalah tadi yang katanya harus masuk satu - satu...tetep saja suk sukan, wus wus wusss..

Sampai di dalam saya gelagepen.. Mana tuh laptop.. wong punggung orang semuaaa .. Huaa..Akhirnya setelah desak sana dorong sini, tereak sana pelototin sini, saya pun bisa masuk ke depan meja - meja display, ikut rebutan sama yang lain. Tidak ada lagi waktu untuk mikir spek.. haha..  Sudah begitu, Hp saya bunyi tak henti - henti, ternyata sms jawaban atas pertanyaan saya tadi, antara lain:

"Ojo vista Bu.. abot.."

"Kandhani sing kosongan wae.."

"Ora ngerti, Gek gek kuwi vistane Ngerso Dalem." Ngaco....

"Ra ngerti, mbak.. mungkin kuwi vista HemBuh.." walaaaaaahhh.....

Ya sudah, singkat cerita, akhirnya saya pulang menjinjing hasil buruan malam itu. Tidak sempat lagi melirik skener UMAX atau printer yang dijual mulai seratus ribuan. Nggak sanggup ngantri lagiii.....

 

Keterangan foto: hasil perburuan, Compaq Presario V3000

 

Kamis, 18 Juni 2009

Kamis Esuk (Basa Jawa)


Ono undangan pertemuan jam 8:30, neng gedung pertemuan daerah mBadran.. whaa.. uadoh poll seko Kalasan. Lha kok yo olehku tangi nganggo kerinan barang, melek melek wes jam setengah wolu. Oalah Gusti....

Yo wes, njuk nubras nubras nyaut andhuk mlebu kamar mandi. Adus waton teles, klamben waton nutup.. hehe.. Jam setengah sanga thit budal seko Kalasan. Wes mesthi telat ki, ha mbok arep ngebut nganti jembilit yo mesthi telat!

Lehku numpak motor rumangsaku wes sak banter - banter-e. Tujune ora nabrak, ora nyampluk pemean e tanggane, ora nyemplung selokan. Ning yo ndilalah kersaning Allah tekan UIN, lha kok yo dalane kebak, macet.. "Iki wong -wong ki gek dho arep neng ndi to yo?.. ora ngerti wong kesusu," ngono pikirku. Tekan prapatan pingit wes meh setengah sepuluh.. walah jan ra mutu tenan.. ngendi ono teko pertemuan kok telat sak jam. Dongaku mung siji, muga muga pertemuan-e rung bubar. "Ojo bubar sik yo, Lakon-e rung teko, Amiin.." Hehe..

Mlebu ruang pertemuan, aku thingak thinguk.. lho kok santai temen iki pesertane. Ono sing ngendikan, guyon,.. Mati aku, wes rampung tenan...

Bar tanda tangan daftar peserta, njupuk snek, lungguh ngarep dhewe (lha kursine sing kosong kari sing ngarep dhewe) njuk ono sing pidato. Kesimpulan-e po yooo??
.. jebuleee..

wooooo pertemuan-e lagi dibukak!!!!

Horeeee!!!! ora sido telaaat!!!!!!!!!!!!!!


Rabu, 28 Januari 2009

Curhat seorang Bapak soal asisten..


http://wiwid2612.multiply.com/journal/item/4?mark_read=wiwid2612:journal:4&replies_read=6
"Puyeng.. mikir Asisten.." demikian gerutu Ismu a.k.a wiwid a.k.a gembul. Sekadar membaca curhatannya saja sudah cukup ikutan puyeng:

===========================================
......
Ternyata dugaan kami benar, belum genap sebulan umur anak kami, si A minta pulang kampung dg alasan anaknya sakit keras (sdh bbrp kali dia minta ijin pulang tp istriku tdk membolehkan, karena masih jd tanggungan Yayasan selama bekerja 3 bln dan menurut keterangan Yayasan via telp, anaknya si A tidak sakit). Akhirnya, dengan pertimbangan kemanusiaan kami memulangkan si A tsb dengan memberinya pesangon selain gajinya yang sebulan.

Jadi lah kami kelabakan cari pengganti baby sitter (BS) karena anak kami belum genap 2 bulan umurnya. Karena harus gerak-cepat, kami menelpon beberapa yayasan penyalur BS di kota kami dengan harapan segera mendapatkan BS yg baru. Kemudian, salah satu yayasan yg kami telpon menawarkan kriteria BS yg kami perlukan, dan dengan segera istriku pergi ke yayasan tersebut untuk menjemputnya. Sebut saja si U namanya. Rada tenang karena minimal istriku masih cuti melahirkan ada yg menemani di rumah.

Baru dua hari si U bekerja, rupanya aku dan istriku mulai gak "comfort" dengan tingkah dan pekerjaan si U karena dia tidak pernah mau menyuci piring bekas makanannya dan tidak pernah mau pula membantu menyucikan popok/baju anak kami, katanya "ini bukan pekerjaan BS".
..........................................................

Selain itu si U juga suka membandingkan kami dengan majikan yg dia ikuti sebelumnya dan mengatakan bahwa kalo majikan sebelumnya suka membawanya jalan-jalan ke mall dan setiap hari diberikan uang 10 ribu, meskipun untuk itu dia harus siap bekerja 24 jam.
........................................................

Istriku menelponku bahwa suami si U datang bersama 2 orang temannya yg badannya besar2, aku langsung panik & cepat sarankan istriku utk segera panggil satpam perumahan. Untunglah kemudian tidak terjadi peristiwa yg tidak diinginkan selain hanya si U hanya minta waktu utk keluar rumah beberapa jam dengan alasan ngantar suami beli kebutuhan anak. Seminggu kemudian, saat weekend dan aku di rumah, suami si U kembali datang, kali ini dia datang dengan membawa anak & seorang temannya. Seperti dugaanku, setelah basa-basi sejenak, dia minta dicarikan pekerjaan, dengan alasan anaknya butuh biaya!

Excuse me...anak kami juga lagi butuh biaya!
......................................................................................
=======================================
Kalau mau lebih puyeng lagi, silahkan klik link di atas untuk kisah selengkapnya :) Ternyata urusan asisten bukan melulu urusan para ibu.

Maka, wahai para Ibu, para Bapak yang jauh sudah pengalaman soal urusan satu ini, tolong saran dan masukannya ya..Biar "bapak baru" satu ini nggak puyeng lagi..


gambar dari sini

Rabu, 21 Januari 2009

Hotspot yang bikin repot


http://suararaa.multiply.com/journal/item/227?mark_read=suararaa:journal:227&replies_read=14
Maunya nulis "Hotspot yang bikin geram" tapi nggak berirama.. Jadilah "Hotspot yang bikin Repot" :D

Kemudahan mendapatkan akses internet dengan adanya hotspot memang membuat hidup lebih mudah. Namun seperti juga hal - hal yang didapat dengan mudah, banyak orang cenderung berlebihan memakainya.

Salah satu contohnya, suatu pertemuan resmi di gedung pusat UGM, yang memang ruang ber-hotspot. Memang sih, ada catatan: harap membawa laptop, karena acaranya memang berkaitan dengan penerapan sistem database baru. Pas seorang pembicara sedang serius menerangkan, tiba - tiba terdengar "CRINGGGG!" khas panggilan YM... Ketahuan banget kan, kalau nyambi chatting?

Kebetulan kok ada juga yang dibikin geram dengan penggunaan hotspot ini, Rapat dicuekin karena pesertanya sibuk "bercinta" dengan laptop masing - masing. Berikut ini petikannya:

=====================================================

.................................................................
Baru kali ini aku sebel sama yang namanya internet dan hotspot.
Aku tau dan aku sering juga dicuekkin temen di manapun kalau mereka lagi konsen dengan internet dan laptopnya.. tapi yah aku mungkin bisa memaklumi dan berlapang dada. hahaha.

Beberapa saat yang lalu, ada rapat besar organisasi. yah biasalah, masa masa pergantian pengurus banyak dilakukan Desember-Januari ini.

Baru kali itu, aku mendapati banyak yang membawa laptop dan berbondong-bondong pergi ke tempat dekat charger.
Plis deh,,,
Mau rapat nggak sih? Niat nggak sih dateng dan mau rapat? Kok nyambi ngenet.. hahaha..Kalau merasa rapat nggak penting dan cuma buat numpang hotspot di dalam ruangan sih,, mendingan numpang hotspot di tempat lain deh. Apa dateng tu cuma mau absen doang? haha nggak penting.. sangat nggak penting.

Kali itu aku merasa benar benar benci dengan internet, hotspot dan laptop...
hahaha.. Orang jadi egois dan nggak care ama apa yang dibahas.

Cerita selengkapnya, klik link di atas..
======================================================

Nah, kayaknya banyak contoh penggunaan hotspot yang sewenang - wenang ini. Mentang - mentang cafe ber-hotspot, dinner for two jadi dinner for three dengan laptop :) Tapi kalau ini sih rada berbau curhat.. :)

Intinya, berhotspot ria pun -seharusnya- ada tata kramanya. Setujuuu?


Gambar didapat dari sini

Rabu, 17 September 2008

Terjebak di tengah kerusuhan

"Kapan kamu terakhir kali ketakutan setengah mati?.."

Huu.. ga bisa lagi jawab dengan "ga ingaat,".. karena saya baru saja ketakutan setengah mati!

Jam sepuluh lewat waktu Kalasan, saya lewat di jalan seputaran Babarsari. Tiba - tiba saya lihat jalanan macet pas di tikungan STTN.. hmm ada apa yaaa? Pikiran saya mulai menduga - duga kemungkinan.. pemeriksaan rutin? razia petasan (suara mirip petasan terdengar beberapa kali), tawuran? Kok banyak banget motor di sana?

Makin dekat lokasi macet, saya makin heran.. Kok makin mirip tawuran? motor motor bersliweran,campur orang berlari - larian, ada yang berteriak - teriak.. eh ada juga motor yang brenti di tengah jalan. Ini ada apa? Lagi celingak celinguk, sambil tetep bawa motor jalan pelan - pelan,.. tiba - tiba.. orang yang naik motor di sebelahku, dua laki - laki berjaket hitam, tiba - tiba berhenti, yang membonceng langsung berdiri dan... menembakkan pistol ke udara!

Haduhh.. tiba - tiba saya merasa ketakutan setengah mati. Jadi suara mirip petasan tadi.. suara pistol? Bagaimana kalau ada yang menembak ke sini? Kalau adapeluru nyasar? waw, Mamaaa..tolooong!

Buru - buru saya jalankan motor menjauh dari si jaket hitam itu, tapi gak bisa ngebut,wong jalanan macet gitu.. dan itu, kenapa malah banyak yang parkir dan nonton? anehh...

Begitulah, dengan perut yang mengencang, tangan dingin, dan jantung berdebar kencang, saya melarikan diri dari TKP... Whew!

Haduhhhh... bener - bener kalah di uji nyali kali ini!

Rabu, 16 Juli 2008

Keisengan waktu kecil

Terinspirasi dari jurnalnya mbak Tika.
Dulu waktu masih sekolah di SMP 8 Terban Yogyakarta, kadang - kadang, kalau lagi nggak males, kelebihan energi, atau pengen nabung uang jajan, saya suka jalan pulang dari sekolah. Lumayan jauh, kira-kira 30 sampai 45 menit sampai ke rumah.

Lewat jalan Jendral Sudirman ke barat sampai ke Tugu, belok kanan, Jetis, ke kiri, Jl. Monginsidi. Nah mau masuk kampung Blunyah, pasti lewat sederetan tukang - tukang becak pada mangkal di pinggir selokan Jetis.

Oh iya, di Jogja ini,  kalau mau memakai jasa tukang becak, calon penumpang suka nanya,"Pak, becake diagem?" maksudnya,"Pak, becaknya dipakai?" maksudnya, ya, siapa tahu, pak becaknya lagi nunggu penumpang atau janjian njemput penumpang. Kalau dijawab, "mboten" (tidak), baru transaksi berlanjut. Mau diantar kemana dst.

Beberapa kali lewat situ, memperhatikan interaksi para tukang becak yang mangkal di pinggir selokan itu, jiwa iseng saya yang (waktu itu) sedang tumbuh, kumat sekumat - kumatnya.
Saya dekati salah satu tukang becak:

Hida : Pak, becake nembe diagem? (Pak,  becaknya baru dipakai?)
Pak Becak: Mboten, monggo, badhe tindak pundi? (Tidak, silakan, mau pergi ke mana?)
Hida:.mmm
Nggih pun Pak, nek mboten kagem, pun buwang mawon teng selokan!
(Ya sudah Pak, Kalo nggak dipake, buang aja ke selokan!)

Pak becak pun marah - marah:
wooo.. bocah ra ngerti tata.. anake sapa kuwiii!!
(Anak nggak tahu sopan santun, anaknya siapa itu...)

Saya pun lari sekencang - kencangnya.. 

Tetapi, Sodara - Sodara.. ternyata bertahun - tahun kemudian, setelah saya kenal sepeda motor, saya pernah jatuh Njumping ala pembalap kampung tepat di belokan itu, dan tanpa ampun, saya dan sepeda motor bebek Yamaha milik kakak, nyebur ke selokan Jetis itu. Dan siapa yang menolong saya, ngentas saya dari kubangan bau itu? Ya.. para tukang becak yang mangkal di situ sambil main gaple .. Bahkan salah satu dari mereka dengan sukarela (dan menolak dibayar) mengantar saya pulang ke rumah orang tua di Karangwaru.

Benar sekali ungkapan, Tuhan tahu, tapi menunggu..



Kamis, 03 Juli 2008

Curhat anak sulung..


http://freehenree.multiply.com/journal/item/29?mark_read=freehenree:journal:29&replies_read=20
Buat Ibu - Ibu, Bapak Bapak... yang punya anak lebih dari satu, baca dong cerita kocak ini :D

Penggalannya: (tentang adiknya yang masi SD)
-==================================================
Tadi siang pas makan ketoprak di boulevard UGM bareng anak-anak, hape-ku bunyi. Si Aziz telpon.

”Haloh mas... Aziz hapenya baru nihh”

”Oiyah?” *pura-pura nggak kaget* btw seberapa penting sih kegunaan HP buat bocah SD ini?! Ada-ada aja.

”Iya Mas, bagus loh, Aziz beli yang Nokia N70” Nadanya riang.

”HEEEHHH? ngapain beli yang gituan?” *bener-bener kaget*

”Kan bagus mas. Pake uang Aziz sendiri kok, kan kmaren habis sunat, trus dapet uang dari kawannya ibu sama bapak. Hehehe keren mas!” *polos*

”Ooohhhh....” *melongoh, mulut membentuk hurup O sempurna*

“Dah ya mas, Cuma mau kabarin itu kok. Daaah”

“...” *duduk bersimpuh sambil nunduk*

Bgitu telpon ditutup, langsung kutatap benda usang ditanganku dengan pasrah dan mata nanar. Sesosok hape Motorola low-end, dengan layar burem dan keypad keras yang bikin jempol kapalan.

Jleebbb, secara gaji supervisor aja selama ini belom bisa buat beli hape baru, tapi Aziz udah bisa beli N70 dari hasil sumbangan sunatannya dia. NASIIIIIIIIIIIB!!!!!

Huhu, yo Olohhh.... apakah aku harus sunat lagi biar bisa ganti hape juga?!

=====================================================
Segera klik link di atas buat cerita lengkapnya :)

Hmm ternyata jealousy pada si sulung tidak sepenuhnya hilang lhoo...

Sabtu, 14 Juni 2008

KApok Dah!!

Sabtu sore, 18:00 di DSC (Depok Sport Center) Yogyakarta
Acara: berenang sama kakak.

Dari awal udah nyadar, ternyata pakai sandal jepit ke kolam renang itu ngga nyaman, licin, berbahaya.Tapi karena udah terlanjur pakai sandal jahannam itu, maka jalan pun harus satu satu, pelan pelan.. selamat sampai ke kolam.

Pulangnya, udah beberapa kali hampir kepleset, di ruang ganti, di pinggir kolam, hampir aja terjun bebas.. tapi masih selamat..

Terakhir, lewat kolam anak - anak... masih hati hati .. jalan pelan - pelan. Tapi dasar tegel udah licin campur air jadi tambah licin... masih ditambah anak - anak yang bersliweran lari sana lari sini... whoaaaa.. akhirnyaaa!!!!!

Pokoknya Kapok dah pake sandal jepit ke kolam renang!!



Ibu - ibu.. Jumat depan kita berenang lagi yaa?


poto diambil dari : http://blogs.guardian.co.uk/news/archives/images/poolblog.jpg



Sabtu, 26 April 2008

The Quest for Tenggok (Bakul beras)

Sabtu, 26 April 2008

Pagi di Salakan, mbak Utari sang preman manuran, sudah ngajak ke pasar Beringhardjo, Jogja, mencari bakul untuk nyuci beras (disebut juga tenggok) yang ukuran jumbo. Ternyata, pagi itu, matahari lagi "murah hati" di Jogja.. puanas gak kira - kira!

Jadilah, dengan boncengan motor, menantang matahari, kami berdua menuju pasar Beringhardjo, sempat mampir di Ngasem, beli bakiak alias theklek :) Sampai di pasar Beringhardjo, seperti sudah diduga, pasar itu puenuh berjubel, suk - suk an, membuat suasana tambah hot! Tujuan membeli tenggok tertunda sejenak sewaktu kami melewati deretan penjual kain. Mbak Utari memilih - milih dan akhirnya memutuskan membeli bahan brokat merah menyala (hiii... melihatnya saja sudah sumuk a.ka gerah bangettt..) plus kain pelapis yang lebih menyala lagi. Setelah itu perburuan tenggok dilanjutkan lagi.

Di lantai 2 belakang, kami menemukan deretan penjual barang kerajinan dari bambu, seperti tampah, tenggok, kalo.. dll.. dan transaksi pun terjadi. Setelah tawar menawar, Mbak Utari akhirnya membeli 10 buah tenggok seharga 20.000 rupiah, jadi semuanya Rp 200.000. Si Mbak penjual pun tersenyum lebar, begitu senangnya sampai memberikan nomer hapenya, siapa tahu kita mau beli "partai besar" lagi.

Setelah menitipkan tenggok untuk di packing, kami menuju sasaran berikutnya: makan! Gak perlu jauh jauh, di lantai yang sama, kami menyantap empal Bu Warno dan gado - gado Bu Hadi yang sudah terkenal itu. (Belum kenal? .. hehe.. coba dong! maknyuss tenan..)

Perut kenyang, kami mengambil lagi bungkusan tenggok (dipacking dengan karung plastik gueddhhe...) kami turun, bungkusan tenggok dibawa oleh simbah simbah buruh gendong. Hehe.. kebayang nggak sih, dua preman jalan melenggang, di belakangnya simbah simbah terbungkuk bungkuk menggendong belanjaan kami :D

Karena jelas gak mungkin membawa bungkusan raksasa itu dengan sepeda motor, kami pun berpisah. Mbak Utari naik taxi dengan bungkusan, saya mengikutin dengan sepeda motor di belakangnya. Kami menuju kantor pusat Tiki untuk langsung memaketkan si bungkusan ke Sorong, Papua :)

Sampai di Tiki, si mas petugas langsung bilang, "Wah ini harus berat kali volume nih.. " sambil ngukur - ngukur berat, tinggi, lebar, dan panjang paket. Bungkusan tenggok ini memang aneh, beratnya nggak seberapa (ditenteng satu tangan juga bisa) tapi guedhenya itu lho, makan tempat! Kemudian dengan sopan kami dipersilahkan ke ruang tunggu yang ber-AC. "Ke sorong berapa, Mbak?," tanya Mbak Utari.
"7 kg  (berat) x 46 inchi (volume) x Rp 18.000, jadinya... Rp 5.796.000"

"Hahhhh...!!!!" mbak Utari langsung kliatan syok berat mendengarnya.. "Nggak dehhh!!!!"
Akhirnya dengan berat hati, kami pun mencari becak untuk membawa bungkusan tenggok ke Salakan... Lima juta Boooo.....

Dikirim, lima juta sekian, gak dikirim, sia -sia dong duit 200.000..
Ada saran?



Kamis, 17 April 2008

Kebanan, Kudanan, keceprotan..

Hari Rabu petang, 16 April 2008

Lepas maghrib saya pulang menuju Kalasan, langit sudah mulai mendung. Pas lewat Ambarukmo Plaza.. Brezz!!!!! hujan duereeesss jatuh tanpa pembukaan, tanpa gerimis sebagai foreplay :p.. whoaaa..saya langsung gelagepan di atas shogun 125.. mau ngapain? Mau minggir buat sekedar pakai jas hujan saja pasti sudah tambah basah kuyup.. Lagipula, banyak motor - motor gila yang langsung tancap gas sejadi - jadinya begitu hujan turun, membuat manuver sederhana seperti menepi saja jadi berbahaya (apalagi, hujan membuat pandangan dari kacamata saya blurred).

Akhirnya saya berhenti di  sebuah warung tenda, setelah jas yang saya pake basah kuyup :). Lumayan juga nunggu hujan reda sambil menyantap nasi uduk + ayam goreng + lalap + teh tawar panas :) Setelah kira - kira satu jam, setelah makan dan ngobrol sama pasangan Bapak Ibu setengah baya yang rela berboncengan berhujan hujan demi membeli makanan kesehatan untuk anaknya yang bekerja di Jakarta, hujan dan angin sudah berkurang, tinggal gerimis (yang tidak mengundang) yang tidak terlalu deras.

Perjalanan ke Kalasan pun berlanjut. Di depan Bandara, jalan yang sempit dan makin sempit lagi karena galian serat optik banjir kira - kira seperempat tinggi ban. Saya jalan pelan - pelan,  takut kalo tiba tiba ada lubang yang gak kelihatan karena banjir. Tiba - tiba.. Ceprot! sebuah mobil Honda Jazz yang lewat meliuk liuk kencang mengirimkan air + lumpur ke saya. Ugh..

Sampai di depan KR Kalitirto.. grimis makin deres.. tapi ada yang tidak beres dengan motor saya, jalannya kok megal megol.. waduh! jangan - jangan.... Yah! ternyata ban belakang motor saya kempis.. bocor! wekk.. ndorong juga akhirnyaa.. Pelan - pelan saya dorong motor menyusuri jalan Jogja - Solo yang gelap, hujan, tapi tetep rame dengan kendaraan. Keadaan makin sulit karena jalan itu sedang diperbaiki, setengah badan jalan ditutup. Jadi, saya terpaksa menuntun kendaraan di tengah jalan, sambil deg degan, takut ketabrak kendaraan lain dari belakang. Saya tahu, pejalan kaki atau pengendara sepeda tanpa lampu sering sekali tidak kelihatan di jalan yang gelap dan hujan..

Tiba - tiba ada yang memanggil," Bu... Bu... ke sana ..di situ..!"
Ternyata ada ibu - ibu yang - anehnya - badannya separo ada di dalam selokan di tepi jalan. Lagi ngapain dia? "Ada Tambal ban di situ..!" katanya lagi sambil menunjuk gapura masuk ke suatu desa. Saya ragu - ragu belok ke situ, tapi rasanya saya sudah nggak kuat mendorong motor lebih jauh lagi lewat jalan besar. Si Ibu itu makin kencang berteriak.."iya, di situ, ketok saja.." Saya ikuti sarannya, belok masuk ke gapura desa itu. Sepi, gelap, gerimis. Ada rumah kecil yang terbuka, beberapa orang makan di situ. Saya langsung menghampiri dan.. hampir saja pingsan oleh bau yang keluar dari situ.. prengus dan bikin mual.. :( 
Tapi saya kuatkan diri..
"Pak..,"tanya saya dari pintu.."Tambal ban dimana?" "
"Di belakang situ Bu.."terdengar jawaban, "Ketok saja.."

Pas pintu rumah saya ketok, saya dikejutkan oleh suara salak anjing bersahut - sahutan.. Saya langsung lari menjauh, apalagi pas seorang laki - laki keluar, telanjang dada hanya memakai kolor lusuh, seekor anjing langsung melesat maju sambil menyalak nyalak..saya langsung menjerit.."Paakkk..saya takut anjiinggg!!!"

Si Bapak telanjang dada ini kemudian memanggil anjingnya masuk, dan menyapa saya ramah,"mau nambal ban ya? tunggu sebentar.."Kemudian keluar seorang pemuda, telanjang dada juga, yang langsung mengambil motor saya dan siap - siap menambal ban. "Duduk di dalam sini, Bu.." kata si Bapak. Saya menggeleng, "Nggak Pak, terima kasih, saya takut anjing.." Sambil duduk di emperan saya perhatikan rumah di depan yang ada orang makan tadi, ternyata ada tulisannya mencang mencong di atas pintu "warung sengsu" (Warung tongseng asu alias tongseng anjing) woo.. pantesan baunya seram begitu.. Mungkin si pemilik warung sengsu itu juga nyambi nambal ban.

Jadilah motor saya ditambal di rumah itu. Lucunya, seluruh anggota keluarga lusuh itu ikut merubung si pemuda menambal ban. Si Bapak berjongkok sambil mengajak saya ngobrol, tentang perbaikan jalanyang tak selesai selesai, tentang jalan - jalan alternatif Kalasan - jogja, tentang Bus trans Jogja yang bagus tapi repot karena haltenya berjauhan:) Seorang perempuan muda (tentunya tidak telanjang dada) dan dua anak kecil ikut ngeriung di situ sambil sesekali tersenyum senyum ke arah saya. tak lama kemudian si Ibu yang tadi memanggil manggil saya, ikut bergabung. Bagian bawah kainnya basah..Saya tak sempat bertanya, ngapain dia berendam di selokan tadi.

Sebenarnya saya rada curiga. Jangan - jangan mereka juga yang masang paku di jalanan. Jangan - jangan nambalnya nggak bener. Jangan - jangan mereka orang nggak bener..jangan - jangan.... Penampilan mereka yang lusuh, ditambah bau sengsu yang bikin mual, ditambah mungkin dengan suasana jalan desa yang gelap, gerimis, dan sepi membuat pikiran buruk tumbuh dengan cepat.

Tapi seiring dengan obrolan kami, kecurigaan saya meleleh. Keluarga sederhana pemilik warung sengsu itu hangat dan polos. Proses penambalan ban pun, prosedural, "lege artis" :D artinya.. mulai dari pengecekan lubang, penambalan, pengecekan ulang dan pemasangan ban kembali, dilakukan dengan serius (tidak ditemukan paku besar penyebab bocor). Ketika motor saya selesai ditambal, mereka semua: Bapak dan anak yang telanjang dada, perempuan muda, dua anak kecil, dan si ibu, melepas saya ramai - ramai seperti mau difoto :) "Lewat jalan besar aja Bu, jangan lewat selokan, nggak aman." Pesan si Bapak.

Saya pun pulang dengan hati ringan..
Berapa kejadian lagi yang diperlukan agar kita tidak menilai orang dari penampilan luarnya?

Note:
Kebanan= kejadian ban bocor di jalan
Kudanan= kehujanan

Gambar dicomot dari sini



Kamis, 05 Juli 2007

Low Batt kok diisi pulsa..


Maaf bagi yang pernah denger cerita ini, hehehe.. 
(soalnya sudah diobrolin sambil ngopi kemaren malam )
pura - pura belom dengar aja yaaa?


Seorang sejawat menceritakan ini sambil senyum - senyum:
=======================================================
"Waktu kemaren saya di Jakarta, sesampainya di airport menjelang pulang ke Jogja saya sms ke suami, "Pa, sy sdh sampai ke CKG, brkt bentar lg maaf ga bisa sms sering - sering, hp low batt"
Sesaat kemudian sms masuk. Lho, kok ada kiriman pulsa?
Meskipun heran, ya seneng juga.. Lumayan, tanggal tua ini. Ini pasti dari si Papa yang salah ngerti, low batt dikira habis pulsa.

Sesaat sebelum boarding, saya sms suami lagi,"Pa, sy sdh mau boarding, hp masi low batt ni, sekalian abis ini mo dimatiin." Setelah itu hape sy matikan dan sayapun pulang ke Jogja.

Setelah pesawat mendarat mulus di Jogja, hape saya hidupkan, untung masih nyala. Eh.. ada kiriman pulsa lagi, ditambah sms dari suami, "Ok, saya isiin tuh pulsanya, tapi cuma tinggal yg 25 ribu di konter tetangga. Cukup kan?"
*sampe di sini.. ceritanya putus - putus karena dia mulai cekikikan..*

Besok paginya saya ke sekolah anak ngambil rapot. Karena kecapekan, saya lupa ngga nge charge hape. Jadinya pas di sekolah anak, hape low batt lagi. Pas membalas sms suami, saya bilang,"Iya, bentar lg selesai nih, wah hp dah low batt lagi niihh.."

Eh.. lha kok sesaat kemudian ada kiriman pulsa lagiii!!! Ini gimana, wong low batt kok diisi pulsa.. tapi lumayaaan... tanggal tua dapet supply pulsa.."

============================================================
Komentar kami?
"Itu bukan cuma hape.. tapi kayaknya suamimu juga low batt...."