Kamis, 03 Februari 2011

Jeritan Sunyi di Kelas Advokasi

Berbeda dengan mata kuliah lain yang relatif dibawakan dengan konvensional, one way lecture, atau rada -rada two-ways dengan sedikit kesempatan bertanya di ujung kuliah, maka kelas advokasi lebih "berwarna". Isu isu aktual dimunculkan lewat tayangan film, slides, poster iklan, atau berita dari media. Diskusi sudah dibuka sejak awal, sehingga suasana kelas lebih aktif, relatif agak berisik, dan egaliter. Menjelang kelas dimulai, tidak kelihatan mahasiswa berlarian masuk kelas karena ketakutan kalau keduluan Dosen dan kena tegur, tapi kelas tetap penuh. Rugi kalau sampai telat di kelas unik ini.

Nah, minggu lalu, di kuliah terakhir menjelang ujian, ditayangkan film pendek tentang aborsi, the Silent Scream (Jeritan Sunyi). Film kontroversial ini menyajikan fakta tentang step by step prosedur aborsi dan tayangan life real time dari layar USG ketika dilakukan aborsi terhadap janin berusia 12 minggu.
===========================================

Kapankah sebuah janin dikatakan hidup?
Ada berbagai pendapat tentang penentuan masa itu, masing-masing dengan argumentasinya. Namun dalam film ini, kita bisa melihat bahwa janin berusia 12 minggu itu telah lengkap berbentuk manusia, dengan jantung yang berdenyut 140 kali per menit. Ketika instrumen untuk aborsi berupa suction tenaculum mulai mendekati kantong amnion yang melindungi janin, janin bergerak menjauh. Dapatkah ini menjadi bukti bahwa janin mempunyai naluri menjauhi bahaya? berarti, hidupkah ia? Denyut jantungnya meningkat hingga 200 x. menit..
Lalu ketika akhirnya kantong telah robek dan ciran amnion keluar, datanglah saat kematiannya, ketika alat suction menghisap tubuh mungil janin, menghancurkannya dan menghisapnya hingga lenyap dari rongga rahim. Selesai?

Ternyata tidak. Ada bagian yang tidak dapat masuk ke suction karena terlalu besar. Ya. kepala janin, terlalu besar untuk dapat dihisap begitu saja, sehingga harus dilakukan prosedur lain untuk mengeluarkannya. Instrumen lain pun masuk untuk "menangkap" dan menjepit kepada yang telah terpisah dari badan ini, kemudian dengan sekali tekan, klem ini menghancurkan kepala janin untuk selanjutnya di-suction keluar rahim. Rahim dibersihkan, dan proses aborsi selesai.

Dengan narasi dan tayangan USG yang cukup jelas, film pendek ini menguak sisi gelap aborsi, bahwa ia tidak lain adalah bentuk kekerasan. Pembunuhan, mutilasi, dan pemusnahan, digabung dalam satu tindakan yang secara etis ilmiah mungkin saja legal. Mungkinkah kita dapat hidup normal, menjalani hari demi hari tanpa beban setelah terlibat dalam perbuatan seperti itu?

Tentu saja, selalu harus ada dua sisi dalam satu cerita. film ini dituduh telah mendramatisasi proses aborsi, dengan mengatakan bahwa terbukanya mulut janin ketika pproses aborsi dilakukan dikatakan "seperti menjerit". Para ahli pendukung "pro-choice" mengatakan bahwa film ini menyesatkan karena dalam usia semuda itu, sensasi nyeri belum terbentuk, sehingga janin tidak merasakan apapun. Namun tetap saja, nyeri atau tanpa nyeri, aborsi tetap menyisakan kengerian.

Kontroversi tetap berkepanjangan tentang aborsi, diakui atau tidak. Tidak berbeda juga yang terjadi di negeri ini. Seperti lazimnya hal-hal sensitif di negeri ini, maka lebih baik diam, tidak membicarakan, dan tidak berbuat sesuatu daripada mencari solusi. Klinik aborsi menjamur, istilah aborsi disamarkan menjadi, disedot, atau digugurkan, namun aborsi tetap ada, dan angkanya cukup besar. Membayangkan sekian banyak janin mengalami nasib mengenaskan seperti dalam film ini, seharusnya cukup menggugah hati nurani kita untuk mempertanyakan kembali, apa yang dapat kita lakukan. Cukupkah hanya berdiam diri saja? Tidak hanya aborsi oleh pasangan pra nikah, remaja, atau mahasiswa saja, namun pikirkan juga aborsi di dalam pernikahan. Berapa banyak pasangan yang melakukan aborsi karena gagal KB, jarak kehamilan yang terlalu dekat, atau alasan lain?

====================================================

Ketika tayangan film pendek ini berakhir, kelas mendadak senyap. Beberapa mahasiswa bahkan kelihatan membasah matanya. Apapun kontroversi yang muncul di awal kelas tadi, rasanya telah terjawab. Aborsi memang mengerikan.


Note: The Silent Scream dapat diunduh lewat youtube.
Gambar janin 11 minggu diambil dari http://www.silentscream.org/silent_e.htm

38 komentar:

  1. speechless...ga bisa komentar apa-apa

    BalasHapus
  2. di dramatisasi atau bukan.
    baru ngebacanya aja udah gak bisa komentar apa2

    BalasHapus
  3. dicatet. sapa tau perlu untuk ngajar mahasiswa nanti. :D

    BalasHapus
  4. ga sanggup bacanya... mbiyen wes tahu aplod aplod foto2 janin hasil aborsi yg sudah keluar, dan mostingnya sambil maem. tapi sumpaaah ....nek moco prosesnya aku ga kuat, apalagi nonton prosesnya T__T
    perasaan yang aneh, emang... aku ga tahu kok bisa begitu T__T
    ga sanggup baca prosesnya T___T tapi malah sanggup lihat janin hasil aborsi yg sudah keluar *tulisan diulang maneh* -__-"

    BalasHapus
  5. belum lagi rahim yg trauma karena diobok-obok ya mbak ?
    hiyyy ...harusnya film beginian ditayangin buat anak2 sma dan anak kuliahan niy mbak
    ben mikir meneh sakdurunge berbuat sing menghasilkan kuping

    BalasHapus
  6. .......................................................................................................................
    sedih
    curol.com: pernah disuruh aborsi. Sakit hati banget.

    BalasHapus
  7. setuju banget..........
    ngeri euyyyy

    BalasHapus
  8. weh.. nek iso entuk film-e.. tak puter nang lapas, mbak

    BalasHapus
  9. sesaat setelah nonton film ini, aku pun cuma bisa istighfar..

    BalasHapus
  10. @Jeng Reny: karena kita punya organ yang diceritakan itu, membayangkan prosesnya, perut bawah kita bisa ikut ngilu :)

    BalasHapus
  11. Ya.. tapi trauma rahim bisa sembuh, sedangkan trauma psikis?
    Setuju.... nggak usahlah mikir soal pornografi (ada tayangan ibu dengan posisi litotomi, alias berbaring dengan kaki mengembang penuh)

    BalasHapus
  12. @Jeng Shanti: Ya.. tapi trauma rahim bisa sembuh, sedangkan trauma psikis?
    Setuju.... nggak usahlah mikir soal pornografi (ada tayangan ibu dengan posisi litotomi, alias berbaring dengan kaki mengembang penuh)

    BalasHapus
  13. kebayang....
    coba orang itu suruh nonton film ini..

    BalasHapus
  14. tambahan: juga buat pasutri yang nggak siap diberi anugrah bernama anak..

    BalasHapus
  15. goleki wae... neng youtube ono kok, tapi narasine basa inggris..

    BalasHapus
  16. Jaman semakin edan ya mbak.....

    BalasHapus
  17. kalau iklan-iklan yang banyak di jalanan itu (ditempel di pohon, di tiang listrik, di besi, di tembok2, etc) dengan tulisan 'obat pelancar haid' dan sejenisnya itu, termasuk aborsi terselubung ga ya mbak? aku penasaran dengan iklan2 kayak gini

    BalasHapus
  18. apik tenan sharingnya, mbak, sangat bermanfaat ilmunya.

    BalasHapus
  19. Jangan percaya begitu saja tulisan ini, coba ajak teman teman nya untuk search dan lihat sendiri..

    BalasHapus
  20. ya,.. tapi mungkin dari dulu memang ada. Salah satu argumen penganut pro-choice yang saya baca, praktek aborsi adalah praktek yang sangat tua.. sudah ditulis di manuskrip manuskrip kuno, tentunya dengan prosedur yang jauh lebih sederhana. Karena itu, menurut mereka, menghapuskan praktek aborsi adalah mustahil. Yang dapat dilakukan adalah membuatnya lebih aman..

    BalasHapus
  21. Matur nuwun.. salah satu ilmu promosi kesehatan yo ngene iki Mas.. sharing.. :)

    BalasHapus
  22. Bisa jadi Mon.. kata seorang temanku, saking penasarannya dia pernah mencoba nelpon, dan menurutnya, itu memang jasa pengguguran kandungan

    BalasHapus
  23. yang aku penasaran...
    kalau itu video pro-life, darimana mereka dapet video aborsi tersebut?
    dari polisi yang menggerebek tempat aborsi pro choice?
    atau bikin sendiri?

    BalasHapus
  24. semoga mereka sadar bahwa aborsi bukan tanggung jawab yang benar atas kesalahan perbuatan yang dilakukan sebelum bayi itu ada dalam perut mereka.


    SABUDI (sastra budaya indonesia)
    mari kita jaga bersama!

    BalasHapus
  25. Sang Narator adalah mantan direktur klinik Aborsi yang akhirnya beralih menjadi aktivis pro-life.. mungkin dari klinik inilah video ini berasal

    BalasHapus
  26. sip, jadi jelas mbak... trims ;)
    soale aneh aja pas liat videonya hehe

    BalasHapus
  27. hehehe, pas pula hari ini aku lagi nyimak diskusi rame di milis dokter indonesia mba, tentang Rekonstruksi Aborsi di Ruang Praktek dr Edward Digelar. Ada yang mengirimkan balasan tentang aktivis pro life: Bernard Nathanson yang sudah tobat sebagai penjagal jabang bayi sebanyak 75 ribu kali!!

    Lihat wiki tentang dr. Bernard: http://en.wikipedia.org/wiki/Bernard_Nathanson

    BalasHapus
  28. iyaa... di akhir film pendek tu kan memang dia memberikan pengakuan tentang masa lalunya sebagai direktur klinik aborsi. Aku pikir itu malah memperkaya dan memperkuat sikap pro-life nya di kemudian hari. Seperti para mantan napi yang menjadi pendakwah :)

    BalasHapus
  29. aku ngilu banget pas liat suction digerak2in maju mundur sementara badan si ibu bergetar... apa nggak sama dengan bertaruh nyawa juga yang begitu erghhhhhhh

    BalasHapus
  30. Iya.. gemetar tuh si Ibu.. Sebenarnya, aborsi, jika dilakukan secara benar oleh tenaga yang kompeten, cukup aman dilakukan, tapi risiko komplikasi tetap saja ada. Sudah kehilangan anak, masih berisiko lagi..

    BalasHapus
  31. yg ini juga ngeriiiiiiiiiiiiiiiii bangettttttttt
    http://jendralberita.wordpress.com/2009/11/21/foto-foto-proses-aborsi/
    oh teganya teganya teganya .......

    BalasHapus